Kamis, 29 Maret 2012

DIKSI

PENERAPAN DIKSI




Diksi adalah pilihan kata dan kejelasan lafal untuk memperoleh efek  tertentu dalam menulis atau berbicara (Kridalaksana 1982:35). Penulis atau pembicara memiliki ribuan kata dan istilah  sebagai kekayaan bahasa.  Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin luas lingkungan pergaulan, dan semakin banyak pengalaman hidup maka semakin banyak pula kekayaan kosa kata.  Semakin banyak kosa kata yang dimiliki seseorang akan semakin mudah orang tersebut memilih dan menggunakan kata secara tepat.
Seorang penulis memiliki peluang yang lebih banyak untuk memilih dan mempertimbangkan penggunaan kata secara tepat sebelum tulisan tersebut dibaca orang. Berbeda dengan pembicara yang tidak memiliki cukup waktu untuk memilih dan mempertimbangkan penggunaan katanya.

Untuk mendayagunakan diksi secara tepat perlu memperhatikan ketepatan dan kesesuaian.
1. Ketepatan Diksi
Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang tepat pada imajinasi pembaca, seperti apa yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis (Keraf 2002:87). Ketepatan diksi akan menyangkut pula masalah makna kata. Ketepatan makna kata menuntut pula kesadaran  penulis  untuk  mengetahui bagaimana hubungan antara bentuk bahasa (kata) dengan referensinya. Apakah bentuk yang dipilih sudah cukup lengkap untuk mendukung maksud penulis atau masih memerlukan penjelasan tambahan. Masalah makna kata juga meminta  perhatian penulis  untuk tetap mengikuti perkembangan makna tiap kata dari waktu ke waktu, karena makna tiap kata dapat mengalami perkembangan, sejalan dengan perkembangan zaman.
Bila kita mendengar seorang menyebut kata roti, maka tidak ada seorang pun yang berpikir tentang sesuatu barang yang terdiri dari unsur-unsur: tepung, air, ragi, dan mentega, yang telah dipanggang. Semua orang berpikir kepada esensinya yang baru, yaitu sejenis makanan, entah itu disebut: roti, bread, Brot, brood, pain, panis, atau apa saja istilahnya. Bunyi yang kita dengar atau bentuk (rangkaian huruf) yang kita baca akan langsung mengarahkan perhatian kita kepada jenis makanan itu.
Itulah sebebanya dapat dikatakan bahwa kata adalah sebuah rangkaian bunyi atau simbol tertulis yang menyebabkan orang berpikir tentang sesuatu hal: dan makna sebuah kata pada dasarnya diperoleh karena persetujuan informal (konvensi) antara sekelompok orang untuk menyatakan hal atau barang tertentu  melalui rangkaian bunyi tertentu. Atau dengan kata lain, arti kata adalah persetujuan atau konvensi umum tentang interrelasi antara sebuah kata dengan referensinya (barang atau hal yang diwakilikinya).
Karena ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi pembaca atau pendengar, seperti yang dipikirkan atau dirasakan oleh penulis atau pembicara, maka setiap penulis atau pembicara harus berusaha secermat mungkin memilih kata-katanya untuk mencapai maksud tersebut. Ketepatan  diksi  akan tampak dari reaksi selanjutnya, baik berupa aksi verbal maupun berupa aksi non-verbal dari pembaca atau pendengar. Ketepatan tidak akan menimbulkan salah paham.
Keraf (2002:88-89) menjelaskan syarat ketepatan diksi adalah sebagai berikut.
(1)   Membedakan secara cermat denotasi dari konotasi. Dari dua kata yang mempunyai makna yang mirip satu sama lain ia harus menetapkan mana yang akan dipergunakan untuk mencapai maksud. Kalau hanya pengertian dasar yang diinginkannya, ia harus memilih kata yang denotatif; kalau ia menghendaki reaksi emosional tertentu, ia harus memilih kata konotatif sesuai dengan sasaran yang akan dicapai.
(2) Membedakan dengan cermat kata-kata yang bersinonim. Seperti telah diuraikan di atas, kata-kata yang bersinonim tidak selalu memiliki distribusi yang saling melengkapi. Sebab itu, penulis atau pembicara harus berhati-hati memilih kata dari sekian sinonim yang ada untuk menyampaikan apa yang diinginkannya, sehingga tidak timbul interpretasi yang berlainan.
(3) Membedakan  kata-kata yang mirip dalam ejaannya. Bila penulis sendiri tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya itu, maka akan membawa akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah paham. Kata-kata yang mirip dalam tulisannya itu misalnya : bahwa – bawah – bawa, interferensi – inferensi, karton-kartun, preposisi – proposisi, korporasi – koperasi, dan sebagainya.
(4)   Hindarilah kata-kata ciptaan sendiri. Bahasa selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat. Perkembangan bahasa pertama-tama tampak dari pertambahan  jumlah kata baru. Namun hal itu tidak berarti bahwa setiap orang  boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru biasanya muncul bersamaan dengabn munculnya referensi baru.
(5)   Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing yang mengandung akhiran asing tersebut. Perhatikan penggunaan : favorabe – favorit, idiom – idiomatik, progres – progresif, dan sebagainya.
(6)   Kata kerja yang menggunakan kata depan harus digunakan secara idiomatis: ingat akan bukan ingat terhadap; berharap akan, bukan mengharap akan: berbahaya bagi, membahayakan sesuatu bukan membahayakan bagi sesuatu: takut akan, menakuli sesuatu (lokatif).
(7)   Untuk menjamin ketepatan diksi, penulis atau pembicara harus membedakan kata umum dan kata khusus. Kata khusus lebih tepat menggambarkan sesuatu daripada kata umum.
(8)   Mempergunakan kata-kata indria yang menunjukkan persepsi yang khusus.
(9)   Memperhatikan perubahan makna yang terjadi pada kata-kata yang sudah dikenal.
(10)     Memperhatikan kelangsungan pilihan kata.
Yang dimaksud dengan kelangsungan pilihan kata adalah teknik memilih kata sedemikian rupa, sehingga maksud atau pikiran seseorang dapat disampaikan secara tepat dan ekonomis.  Kelangsungan dapat terganggu bila  seorang pembicara atau pengarang mempergunakan terlalu banyak kata untuk suatu maksud yang dapat diungkapkan secara singkat, atau mempergunakan kata-kata yang kabur, yang bisa menimbulkan ambiguitas (makna ganda).
Halangan pertama untuk mencapai kelangsungan pilihan kata berasal dari penggunaan kata yang terlalu banyak untuk suatu maksud serta kekaburan makna dari kata-kata yang digunakan. Menggunakan kata-kata yang tidak menambah kejelasan dapat menjadi halangan bagi kelangsungan pilihan kata.

2. Kesesuaian Diksi
Persoalan kedua dalam pendayagunaan kata adalah kecocokan atau kesesuaian. Perbedaan antara ketepatan dan kecocokan pertama-tama mencakup soal kata mana yang akan digunakan dalam kesempatan tertentu.  Perbedaan yang sangat jelas antara ketepatan dan kesesuaian  adalah bahwa dalam  kesesuaian dipersoalkan : apakah kita dapat mengungkapkan pikiran kita dengan cara yang sama dalam semua kesempatan dan lingkungan yang kita masuki. Tingkah laku manusia yang berwujud bahasa juga akan disesuaikan dengan suasana yang formal dan nonformal, sedangkan suasana yang nonformal menghendaki bahasa yang nonformal.
Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang bisa mempengaruhi bahasa kita, yaitu pokok persoalan yang dibawakan, para hadirin yang terlibat dalam komunikasi, dan diri kita sendiri.
Jadi secara singkat perbedaan antara persoalan ketepatan dan kesesuaian adalah dalam persoalan ketepatan kita bertanya apakah pilihan kata yang dipakai sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak akan menimbulkan interpretasi yang berlainan antara pembicara dan pendengar, atau antara penulis dan pembaca; sedangkan dalam persoalan kecocokan atau kesesuaian kita mempersoalkan apakah pilihan kata dan gaya bahasa yang dipergunakan tidak merusak suasana atau menyinggung perasaan orang yang hadir.
Bahasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Perkembangan bahasa ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya kebutuhan untuk menyerap teknologi baru yang belum dimiliki, tingkat kontak dengan bangsa-bangsa lain di dunia, dan kekayaan budaya asli yang dimiliki penutur bahasanya. Dalam perkembangan bahasa ada unsur-unsur baru yang selalu muncul dan ada unsur-unsur lama yang lenyap dari pemakaian, serta ada unsur-unsur yang mengalami pergeseran dan perubahan makna, selalu akan terdapat bagian dari kosa kata yang dikenal bersama dan dipakai oleh semua penutur bahasa.
Di samping unsur-unsur bahasa yang dikuasai dan dikenal oleh seluruh anggota masyarakat bahasa, ada juga unsur bahasa yang terbatas penuturnya. Unsur-unsur semacam itu dikenal dengan pelbagai macam nama : bahasa slang,  jargon, bahasa daerah, dan sebagainya. Kata-kata yang termasuk dalam kelompok ini harus dipergunakan secara hati-hati agar tidak merusak suasana. Bila suatu  situasi yang formal tiba-tiba dimasuki oleh kata-kata yang bersifat kedaerahan, maka suasana yang formal tadi akan terganggu.
Agar kata-kata yang dipergunakan tidak  mengganggu suasana, dan tidak akan menimbulkan ketegangan antara penulis  atau pembicara dengan para hadirin atau para pembaca perlu memperhatikan syarat-syarat berikut.
(1)    Hindarilah sejauh mungkin bahasa atau unsur substandar dalam suatu situasi yang formal.
(2)    Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum  hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata populer.
(3)    Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.
(4)    Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang.
(5)    Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan atau bahasa lisan.
(6)    Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati)
(7)    Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artifisial.

Jumat, 30 Desember 2011

biologi-tingkah laku

TINGKAH LAKU PADA TUMBUHAN
Setiap organisme mampu menerima rangsang yang disebut IRITABILITAS, dan mampu pula menanggapi rangsang tersebut. Salah satu bentuk tanggapan yang umum adalah berupa gerak. Gerak berupa perubahan posisi tubuh atau perpindahan yang meliputi seluruh atau sebagian dari tubuh.
A.    GERAK ETIONOM 
Gerak etivnom merupakan reaksi gerak tumbuhan yang disebabkan oleh adanya rangsangan dari luar. Berdasarkan hubungan antara arah respons gerakan dengan arah asal rangsangan, gerak etionom dapat dibedakan menjadi gerak tropisme, taksis, dan nasti. Jika yang bergerak hanya bagian dari tumbuhan, maka disebut: gerak tropisme. Jika yang bergerak seluruh bagian tumbuhan disebut gerak taksis. JIka gerakannya itu tidakl dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan, disebut gerak nasti. Untuk lebih jelasnya pelajari uraian berikut:
  1. Tropisme
Tropisme adalah: gerak bagian tumbuhan yang arah geraknya dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan. Bagian yang bergerak itu misalnya : cabang, daun, kuncup bunga, atau sulur. Gerak tropisme dapat dibedakan menjadi tropisme positif apabila gerak itu menuju sumber rangsangan dan tropisme negatifapabila gerak itu menjahui rangsangan.
Ditinjau dari macam sumber rangsangan, tropisme dapat dibedakan lagi menjadi: fototropisme, geotropism, hidropisme, kemotropisme, tiqmotropisme
a.     Fototropisme
Fototropisme adalah: gerak bagian tumbuhan karenarangsanga cahaya
Gerakan bagian tumbuhan yang menuju kearah cahaya disebut: Fototropisme positif. Sedangkan gerakan bagian tumbuhan yang menjauhi cahaya disebut : Fototropisme negative
b.    Geotropisme
Geotropisme adalah  pengaruh grafitasi bumi. Jika arah gerakan menuju rangsang disebut: geotropisme positif
misal: gerak akar menuju tanah
jika arah gerakan menjauhi rangsang disebut: geotropisme negative misal gerak tumbuh batang menjauhi tanah.
c.     Hidrotropisme
Hidrotropisme adalah: gerak bagian tumbuhan rangsangan air. Jika gerakan itu mendekatia air disebut hidritropisme positif. Misal: akar tanaman bergerak menuju tempat yang banyak airnya ditanah. Jika tanaman tumbuh menjauhi air disebut: hidrotropisme negative.
Misal: gerak pucuk batang tumbuhan yang tumbuh keatas menjauhi air.
d.    Kemotropisme
Kemotropisme adalah: gerak bagian tumbuhan karma rangsangan zat kimia. Jika gerakannya mendekati zat kimia disebut: kemotropisme positif. Contoh: gerak akar menuju zat didalam tanah. Jika gerakannya menjauhi zat kimia disebut: kemotropisme negative. Contoh: gerak akar menjauhi daun.
e.     Tigmotropisme
Tigmotropisme adalah: gerak bagian tumbuhan karena danya rangsangan sentuhan pada satu sisi atau persinggangan. Contoh: ujung sulur ketimun, ketela rambat, semangka, cipluhan, dan lain-lain.

  1. Taksis
Taksis adalah: gerak seluruh tubuh atau gerak berpindah tempat bagian dari tubuh tumbuhan yang arah berpindahnya dipengaruhi rangasangan.
Gerakan yang arahnya mendekati sumber rangsangan disebut: taksis positif.
Dan yang menjauhi sumber rangsangan taksis negative, Macam atau sumber rangsangan taksis meliputi: Cahaya, zat kimia, dan rangsang listrik.
Jika rangsangan berupa zat kimia, gerak itu disebut: kemotaksis. Jika rangsangan yang dating berupa cahaya disebut fototaksis. Jika rangsangan berupa listrik disebut: galuanotaksis
  1. Nasti
Nasti adalah: gerak bagian tumbuhan yang arahnya tidak dipengaruhi oleh arah datangnya rangsangan, tetapi ditentukan oleh tumbuhan itu sendiri. Gerak nasti antara lain: Fotonasti, Niktinasti, Tigmonasti/seismonasti, Termonasti, Haptonasti, Hidronasti, Nasti kompleks
a.     Fotonasti
Fotonasti adalah: gerak nasti yang disebabkan oleh rangsangan cahaya.
Misalnya: gerakan mekarnya bunga pukul empat (mrabilis jalapa)
b.    Niktinasti
Niktinasti adalah: gerak nasti yang disebabkan oleh suasana gelap, sehingga disebut: juga gerak tidur.
Misalnya: pada malam hari daun-daun tumbuhan polong-polongan akan menutup dan membuika keesokan harinya ketikia matahari terbit.
c.     Tigmonasti
Tignonasti adalah: gerakan nasti yang disebabkan rangsang sentuhan atau getaran.
Misalnya: gerak menutupnya daun Sikejut atau putrid malu (mimosa pudika) jika disentuh
d.    Termonasti
Termonasti: gerak nasti yang disebabkan oleh rangsangan suhu, seperti mekarnya bunga tulip dan Crocus.
e.     Haptonasti
Haptonasti adalah: gerak nasti yang terjadi pada tumbuhan insektivor yang disebabkan oleh sentuhan serangga.
Misalnya: Dionaca sejenis tumbuhan perangkap lalat sangat sensitive terhadap sentuhan.
f.      Hidronasti
Hidronasti adalah: gerak yang terjadi terhadap keadaan air.
Misalnya: gerak menggulungnya daun padi dan daun sore (Cimbopogan nardas) jika keadaan kurang air
g.    Nasti kopmpleks
Nasti kompleks adalah: gerak nasti yang disebabkan oleh beberapa factor sekaligus seperti: karbondioksida, PH, temperature dan kadar kalsium.
Contoh: gerak membuka dan menutupnya stomata pada daun.

B.    GERAK ENDONOM/OTONOM.
Gerak endonom disebabkan oleh rangsangan atau factor-faktor yang diduga berasal dari dalam tumbuhan itu sendiri.
Gerak ini dikenal pula sebagi gerak spontan dari tumbuhan karma tumbuhan melakukan gerakan secara spontan, tanpa adanya mengarah rangsangan dari luar.
Gerak hidonom yang paling umum adalah: mutasi
Mutasi adalah: gerak ujung batang yang sedang tumbuh atau organ lain seperti daun, stolon, tangkai bunga, dan akar yang gerakannya membentuk lintasan melingkar diudara.
Gerak endonom yang lain adalah: gerak higroshopis
Higroshopis adalah: gerak bagian tumbuhan yang disebabkan oleh tumbuhan kadarv air didalam bagian tumbuhan.
Contohnya: pecahnya kulit buah polong-polongan, pecahnya kulit buah tumbuhan pacar air, membuka kotak spora, tumbuhan lumut dan paku saat mengeluarkan spora.